Oleh: waspadanusantara | Januari 21, 2008

Memantapkan Wawasan Kebangsaan dalam Menghadapi Perkembangan Global dan Disintegrasi Bangsa

Oleh : Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu* 

TEMA di atas sangat tidak popular, namun pandangan demikian sangat keliru karena di negara manapun wawasan kebangsaan merupakan kunci dari tegak dan hancurnya suatu bangsa. Forum seperti ini sangat penting bagi kita khususnya bangsa Indonesia karena dapat dijadikan wahana untuk membangkitkan kembali semangat nasionalisme yang saat ini terasa sudah mulai luntur.

Dikatakan demikian karena dinamika perkembangan lingkungan strategis yang semakin kompleks dan berjalan demikian cepat, telah membawa perubahan dalam segenap aspek kehidupan yang berdampak kepa-da semakin menguatnya kecenderungan dari sebagian anak bangsa, untuk lebih berorientasi pada kepentingan universal dengan mengabaikan kepentingan nasional. Hal tersebut telah menimbulkan berbagai konflik di berbagai strata kehidupan masyarakat yang akhirnya bermuara pada disintegrasi bangsa.

Judul di atas sengaja diangkat untuk mengingatkan kita semua dan sekaligus sebagai kontribusi TNI-AD kepada bangsa Indonesia dalam upaya memantapkan kembali persatuan dan kesatuan dari keberagaman di dalam bingkai wawasan kebangsaan Indonesia, dengan harapan agar kita siap menghadapi perkembangan dan perubahan global. Adapun pokok-pokok materi yang akan diuraikan meliputi : situasi lingkungan strategis, pengaruh lingstra terhadap NKRI, wawasan kebangsaan, sejarah Indonesia dan perjalanan bangsa, TNI, hal-hal yang sudah dan sedang dilakukan TNI serta beberapa harapan-harapan saya kepada segenap komponen bangsa Indonesia.
Situasi Lingstra

Beberapa dekade yang lalu, Indonesia pernah hampir mendapat julukan sebagai macan Asia, karena memiliki potensi sangat besar seperti sumber daya alam yang melimpah, jumlah penduduk terbesar nomor empat di dunia serta kemampuan diplomasi yang tinggi. Namun dalam perjalanannya keadaan bangsa Indonesia justru mengarah kepada kondisi yang sebaliknya bila dihadap-kan dengan perkembangan negara-negara di kawasan Asia Tenggara khususnya dan Asia pada umumnya.

Keanekaragaman Suku, Agama, Ras dan Adat Istiadat yang dulu terjalin kokoh kuat dalam bingkai kebangsaan Indonesia, kini terasa semakin longgar dan rentan terhadap masuknya pengaruh nilai-nilai universal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di Indonesia merupakan dampak dari perubahan lingkungan yang tidak dapat terhindari. Kita memang mengakui dan menerima adanya perubahan yang terjadi, karena itu merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Perkembangan itu harus kita ikuti agar bangsa kita tidak tertinggal jauh dan dapat berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Namun, masuknya nilai-nilai yang tidak sesuai dengan budaya bangsa kita, tidak boleh dipaksakan untuk diterima, karena jika hal itu terjadi, maka akan berakibat fatal bagi bangsa Indonesia sendiri.

Selanjutnya sekilas tentang perkembangan lingkungan strategis agar kita semua dapat menyikapi setiap perubahan yang terjadi dalam rangka menjaga kesinambungan pembangunan bangsa dan negara Indonesia yang sedang terus berupaya mengatasi krisis multidimensi yang hingga saat ini belum mencapai hasil sebagaimana yang kita harapkan bersama. Indonesia dengan posisi geostrategi yang unik dan memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, akan selalu menghadapi tantangan, gangguan dan bahkan ancaman.

Secara geografis Indonesia merupakan persimpangan lalu lintas perdagangan dunia, sehingga mengakibatkan keinginan asing untuk menghadirkan kekuatan militernya atau menempatkan pangkalan militer dalam melindungi jalur perdagangan mereka dan sekaligus untuk perimbangan kekuatan militer negara-negara besar. Perlu kita sadari, bahwa posisi Indonesia memang terletak pada simpul perebutan pengaruh atau saling intervensi dari kutub-kutub kekuatan militer dan ekonomi dunia, masih tetap ada. Kekayaan sumber daya alam Indonesia juga merupakan daya tarik tersendiri bagi bangsa lain untuk dieksploitasi secara damai maupun dikuasai secara paksa.

Penyebab terjadinya perang di kawasan Timur Tengah tidak terlepas dari ambisi negara-negara tertentu untuk menguasai deposit minyak bumi yang sangat besar. Sekalipun perang itu diformat dengan alasan masalah kemanusiaan, terorisme atau senjata pemusnah massal, namun dibalik itu semua, upaya penguasaan sumber daya alam merupakan penyebab utama terjadinya konflik kepentingan dari negara-negara besar.

Sifat agresifitas manusia atau bangsa yang dipicu oleh ambisi kekuasaan dan harga diri yang berlebihan masih ada dan selalu ada serta menjadi penyebab perkembangan lingkungan strategis di tingkat global, regional dan nasional yang tidak kondusif bagi perdamaian dunia maupun pencapaian kepentingan nasional Indonesia.
Perkembangan Lingkungan Strategis Pada Lingkup Global

Fenomena global dewasa ini telah membawa manusia kembali pada kondisi menyerupai jaman purba yang menganut hukum rimba, dimana pihak yang kuat akan menindas pihak yang lemah dalam berbagai bentuk dan spektrum perang yang tidak seimbang. Jadi perang yang diciptakan itu bukanlah bentuk perang sebagaimana lazimnya suatu perang antara dua kekuatan, tetapi lebih merupakan tekanan atau penindasan oleh yang jauh lebih kuat terhadap yang lebih lemah, kecil dan tersisih.

Perang yang hingga saat ini masih berkecamuk di beberapa kawasan seperti di Irak dan Afganistan, ketegangan antara Korut dan Korsel, terpecahnya beberapa negara besar menjadi sejumlah negara kecil seperti eks Uni Soviet, Yugoslavia, pecahnya perang saudara yang terjadi di Kamboja, Somalia, Ruwanda dan lain-lain adalah wujud dari sifat agresifitas manusia yang ditunjukkan oleh negara-negara besar dan maju ( koalisi global ) serta masuknya nilai-nilai, norma dan kepentingan asing yang dipaksakan sehingga menimbulkan konflik dan pecahnya rasa persatuan dan kesatuan serta lunturnya wawasan kebangsaan dari rakyatnya. Contoh negara-negara yang tetap eksis dan tidak tersentuh oleh kekuatan lain karena rakyatnya bersatu-padu, teguh memegang nilai-nilai budaya dan jati diri bangsanya adalah Israel, Vietnam, Cina, Jepang dan India.
Lingkungan Regional

Asean adalah organisasi negara-negara Asia Tenggara yang bersifat asosiatif, sehingga tidak menjamin adanya kesepakatan yang bersifat mengikat. Kondisi objektif itu menjadi kendala terwujudnya solidaritas Asean dalam mengatasi berbagai permasalahan regional. Penyelesaian kasus Pulau Sipadan dan Ligitan di Mahkamah Internasional, membuktikan bahwa Asean gagal mengatasi permasalahan kawasan secara mandiri.

Setiap negara Asean bebas melakukan kerjasama militer atau bahkan bergabung dalam pakta pertahanan di luar kawasan. Hal ini mengakibatkan sesama negara Asean sendiri berada dalam posisi berhadapan. Berbagai masalah sengketa teritorial, tidak jelas batas antara negara, kejahatan internasional dan kegiatan ilegal lainnya belum mampu diselesaikan oleh Asean sendiri. Solusi damai memang menjadi harapan kita semua, namun kita juga memerlukan kekuatan tawar atau Bargaining Power untuk memberikan dampak penangkalan yang efektif. Kemampuan Indonesia untuk Menolong Diri Sendiri perlu segera diwujudkan, karena tidak ada satu negara pun yang secara tulus mau menolong kita. Kata kuncinya, yang menolong kita adalah kita sendiri dalam bentuk Persatuan dan Kesatuan yang Kokoh dan Kuat Dari Segenap Komponen Bangsa Dalam
Bingkai Wawasan Kebangsaan Indonesia.
Lingkungan Nasional

Bergulirnya reformasi nasional adalah fakta bahwa bangsa Indonesia menghendaki perubahan-perubahan, sekaligus mengatasi berbagai krisis. Dukungan masyarakat terhadap reformasi timbul, karena diharapkan cita-cita reformasi itu diharapkan kelanjutan dari cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia.

Harapan masyarakat itu diwujudkan dalam sumbangan suara mereka kepada Parpol pada Era Reformasi yang berhasil menggantikan kepemimpinan nasional. Rezim lama yang dinilai gagal mencegah krisis, diposisikan sebagai lawan yang harus dihancurkan, namun rezim pada era reformasi belum berhasil sesuai dengan harapan seluruh rakyat. Logika demokrasi yang sempit itu juga mengakibatkan menajamnya rivalitas politik, menguatnya isu kedaerahan dan faham federal dalam sistem otonomi. Nasionalisme bangsa Indonesia yang dibangun diatas landasan konsensus pada peristiwa Sumpah Pemuda 1928, terfragmentasi oleh berbagai kepentingan sempit dan sesaat yang tidak searah dengan kepentingan nasional.

Liberalisme yang menyertai isu global dan diakomo-dasikan dalam penyelenggaraan reformasi nasional semakin meluas pengaruhnya. Apresiasi terhadap Pancasila sebagai ideologi negara semakin menipis dan formalitas belaka. Pancasila sebagai ideologi negara yang lahir dari ide-ide bangsa yang mengandung nilai-nilai hakiki semakin terkikis oleh ideologi asing. Inilah berbagai permasalahan yang kita hadapi dan menjadi tantangan kita bersama.
Pengaruh Lingstra Terhadap Keutuhan NKRI

Kerawanan akibat tekanan global merupakan wujud dari keinginan negara-negara yang tergabung dalam koalisi untuk memperluas hegemoni dan upaya menyatukan negara-negara di dunia ke dalam suatu kutub atau “UNIPOLAR WORLD” ditangan suatu bangsa yang berperan sebagai pemegang supremasi. Akibatnya negara-negara berkembang menjadi tersisih apabila menolak nilai-nilai dan norma yang akan diterapkan.

Demokrasi, Hak Azasi Manusia dan Lingkungan Hidup merupakan nilai-nilai universal yang sangat baik dan harus kita wujudkan sepanjang penerapannya dilakukan dengan sungguh-sungguh tanpa dimuati kepentingan-kepentingan dan hanya menguntungkan pihak/negara asing.

Nilai-nilai universal tidak selalu harmonis dengan nilai-nilai nasional suatu bangsa sehingga bila nilai tersebut diadopsi begitu saja tanpa terlebih dahulu dikaji secara mendalam, maka yang terjadi adalah timbulnya konflik di berbagai strata kehidupan sosial masyarakat.
Ancaman separatisme seperti di Aceh dan Papua serta konflik di berbagai daerah seperti Maluku dan Poso hingga saat ini masih menjadi persoalan bangsa
Indonesia yang belum dapat dituntaskan.
Pengaruh Lingstra Terhadap Wawasan Kebangsaan Indonesia

Universalitas yang mewarnai reformasi nasional itu telah menimbulkan berbagai konflik di seluruh penjuru tanah air. Ide separatisme muncul kembali dan dianggap sebagai bagian dari praktek demokrasi yang diartikan dengan logika sempit sebagai kebebasan menentukan nasib sendiri. Upaya-upaya untuk mengatasi SEPARATISME dan ANARKISME dianggap sebagai tindakan anti demokrasi.

Pemahaman kebebasan/demokrasi oleh sebagian masyarakat yang mengarah kepada keinginan melepaskan diri dari NKRI serta mengembangkan pandangan yang sempit di kalangan masyarakat, telah menggejala dan dimunculkan sebagai wacana. Hal ini telah mengakibatkan semakin longgarnya ikatan yang kokoh dan kuat yang selama ini telah susah payah dibangun bersama oleh segenap komponen bangsa Indonesia menjadi semakin rentan dan mudah diprovokasi oleh pihak-pihak dari dalam dan luar negeri yang memang tidak menginginkan NKRI, utuh dan kuat.

Demokrasi bukanlah tujuan utama, tetapi sebagai wahana untuk mewujudkan kepentingan nasional. Bukan sebaliknya kepentingan nasional dikorbankan untuk sekedar mempraktekkan demokrasi. Tegak atau hancurnya suatu bangsa sangat tergantung kepada bangsa itu sendiri. Intervensi asing yang akan menjadi penyebab lenyapnya Indonesia dari peta-peta kalangan bangsa terhormat di dunia harus kita lawan bersama.
Bahayanya Perang Modern

Dalam konteks menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Perang ini merupakan perang masa kini yang tidak harus berbentuk invasi militer seperti masa lalu yaitu penghancuran secara total. Namun, perang ini menggunakan potensi dalam suatu negara serta cybernetic sehingga akibat yang ditimbulkannya jauh lebih dahsyat dari perang masa lalu. Karena yang diserang dan dirusak seluruh aspek kehidupan meliputi IPOLEKSOSBUD dan militer.

Pentahapannya diawali dengan merubah paradigma berfikir dan selanjutnya akan berdampak pada aspek lainnya dengan memanfaatkan kelemahan dan celah rentannya kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kemudian dengan memanfaatkan sel-sel perlawanan dan mengibarkan separatisme serta mengadu domba dan memecah belah kekuatan dari komponen bangsa yang ada sehingga kekuatan tentaranya menjadi lemah dan selanjutnya negara menjadi lemah pada akhirnya negara terpecah atau setidak-tidaknya timbul ketergantungan kepada negara lain.

Keadaan seperti ini akan sangat mungkin terjadi di negara ini bila ikatan kesatuan dan persatuan kita semakin longgar sehingga pertikaian antar sesama anak bangsa terus berlangsung, tidak segera menyadari serta mengambil sikap untuk melawannya.
Sejarah Bangsa Indonesia

Bagi bangsa Indonesia, sejarah perjuangan bangsa khususnya dalam merebut kemerdekaan, telah memberikan nilai-nilai semangat juang yang tinggi dan mampu menggugah dan memotivasi serta menjadi sumber inspirasi bagi generasi demi generasi guna meneruskan perjuangan para pendahulu untuk tetap mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sejarah bangsa ini sudah tercatat lima belas abad sebelum masa penjajahan.
Dalam kurun waktu itu, terjadi pergaulan kebudayaan dan perhubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan lain di sekelilingnya.

Selama itu, umumnya bangsa kita berkembang menurut kodratnya sendiri, seraya menyesuaikan dengan unsur-unsur kebudayaan asing yang diterimanya sebatas kebutuhan dan sifat-sifatnya.
Apakah yang berkembang selama lima belas abad itu akan tetap merupakan unsur yang penting bagi perkembangan jiwa bangsa kita, meskipun negara dan masyarakat yang hendak kita bangun sesudah proklamasi kemerdekaan berlainan dasarnya daripada negara-negara dan masyarakat yang terdapat dalam sejarah lama.

Tetapi satu hal yang patut kita yakini dan menggugah semangat kebangsaan kita yaitu bahwa sebenar-benarnya bangsa kita, bangsa Indonesia, bangsa yang menghuni nusantara ini merupakan bangsa besar yang tercatat dalam sejarah dunia.

Sekitar tahun 650, di Sumatera telah terbentuk Kerajaan Sriwijaya dan di Jawa Tengah juga terdapat kerajaan besar yakni Kalingga. Kebesaran kerajaan pada masa itu dengan berdirinya Candi Borobudur pada abad delapan.

Kerajaan Sriwijaya pernah mengalami jaman gemilang dan wilayah kekuasaannya meluas sampai ke luar nusantara, antara lain ke daratan Asia Tenggara dan Philipina, namun juga mengalami jaman kemunduran karena menghadapi persaingan dan serangan dari kerajaan-kerajaan yang muncul di Jawa. Kerajaan Sriwijaya hidup terus sampai akhir abad ke empat belas.

Tahun 1293, oleh Raden Wijaya didirikan kerajaan Majapahit yang kuat dan merupakan salah satu puncak kejayaan dalam sejarah lama kita, terutama dibawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk, yang berkuasa mulai tahun 1350 sampai tahun 1389.

Sebagian besar kejayaan dan kebesaran Kerajaan Majapahit itu diperoleh berkat andil dan hasil karya Gajah Mada yang menjadi Patih atau Perdana Menteri mulai tahun 1331 sampai 1364 yang berhasil menguasai seluruh nusantara dan beberapa daerah di luarnya.

Namun sesudah raja Hayah Wuruk wafat, pertentangan-pertentangan dan perang saudara berkecamuk, keadaan negara seperti itu dimanfaatkan oleh daerah-daerah untuk menentang kekuasaan dan pengendalian pusat, yang melahirkan kerajaan-kerajaan kecil.

Dengan berkurangnya Majapahit, bangsa Portugis yang disusul dengan bangsa barat lainnya, seperti Belanda, juga bangsa Tiongkok atau Cina masuk dan datang untuk berdagang, bertani dan bahkan sebagai bajak laut, kemudian mereka menetap.

Pada mulanya bangsa Barat sebenarnya bermaksud mengeksploitasi sumber daya alamnya demi kepentingan negara penjajah itu dengan menggunakan politik adu domba, devide et impera, sehingga kerajaan-kerajaan kecil yang terdapat di wilayah Nusantara tidak menjadi besar, bersatu dan kuat. Politik tersebut berhasil, hingga seluruh wilayah Nusantara dijajah selama 3,5 abad.
Pergerakan Perjuangan

Perjalanan panjang sejarah penjajahan di Nusantara ini, telah mengusik jiwa dan hati nurani anak bangsa, terutama para pemuda untuk bangkit menentang penjajah.
Tahun 1908, mulai muncul gerakan kebangsaan Indonesia yang diawali dengan munculnya bermacam-macam pengelompokan yang didasarkan atas rasa solidaritas atau hubungan kesetiakawanan yang terbatas ruang lingkupnya seperti solidaritas kedaerahan, suku bangsa, ras dan agama. Diantaranya kita kenal Budi Utomo yang didasarkan atas rasa solidaritas penduduk di Jawa dan Madura.

Tahun 1912, muncul Indische Partij yang melahirkan perhimpunan-perhimpunan berdasarkan Konsepsi Kebangsaan Indonesia dengan tujuan mempersatukan semua golongan penduduk yang beranekaragam di wilayah Nusantara ini, kemudian tanggal 28 Oktober 1928, sejumlah pemuda mengadakan kongres di Batavia dan menghasilkan kata sepakat yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda atau Ikrar Pemuda.
Yang menjadi tekad, sekaligus dasar perjuangan pemuda adalah pemikiran bahwa mereka mempunyai satu tanah air, yaitu tanah Indonesia, satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia, dan menjunjung tinggi satu bahasa yaitu bahasa Indonesia.

Hal itu selanjutnya menjadi motivasi dan pemicu bangkitnya rasa kebangsaan Indonesia untuk melawan penjajah. Perjuangan keras itu menghasilkan proklamasi 17 Agustus tahun 1945 dan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.
Namun, sejak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, usaha-usaha untuk mengisi kemerdekaan dan membangun bangsa dan negara ini selalu saja mendapat gangguan, hambatan bahkan ancaman dari dalam dan luar negeri.

Upaya mempertahankan proklamasi kemerdekaan bangsa dan negara ini terus dilakukan dengan gigih, melibatkan semua komponen bangsa termasuk TNI yang memang tidak terpisahkan dari sejarah perjuangan bangsa.
Berbagai pemberontakan silih berganti muncul dan kesemuanya dapat ditumpas oleh TNI bersama-sama seluruh rakyat Indonesia, seperti :
– Pemberontakan PKI tahun 1948 di Madiun oleh Muso mendirikan Negara Soviet Republik Indonesia.
– DI/TII Jawa Barat tahun 1949 oleh Sekarmaji Mari- jan Kartosuwiryo mendirikan negara yang dikepalai seorang imam berdasarkan religi yang fanatik dan dogmatik.
– Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) 1950 oleh Raymon Piere Westerling menjadikan Indonesia sebagai jajahan Belanda.
– Andi Aziz tahun 1950 oleh Kapten KNIL Andi Aziz di Makassar mempertahankan Negara Indonesia Timur dan menolak pasukan TNI.
– RMS tahun 1950 oleh DR CH.R. Soumokil di Maluku mendirikan negara terlepas dari NKRI setelah gagal membantu pemberontakan Andi Aziz.
– DI/TII Kalimantan Selatan 1950 oleh Ibnu Hajar karena ketidakpuasan Ibnu Hajar pindah ke Kalbar.
– DI/TII Sulawesi 1953 oleh Kahar Muzakar karena tidak setuju terhadap keputusan masuknya Korps Cadangan Nasional atau CTN ke dalam APRIS secara bertahap.
– DI/TII Aceh 1953 oleh T. Moch Daud Beureuh karena ketidakpuasan terhadap keputusan peme- rintah yang menjadikan Aceh keresidenan dalam Provinsi Sumut.
– Permesta 1957 di Makassar karena tidak puas dengan APRIS.
– PRRI 1958 di Padang oleh Ahmad Husin, Maludin Simbolon, Dahlan Jambek dan Syafrudin Prawiranegara karena ketimpangan pembangunan.
– Organisasi Papua Merdeka (OPM) 1964 di Ayamaru oleh T.T Aronggear Lodewijk Mandadan dan Ferry Awom dibentuk Belanda melalui putra daerah mendirikan negara Papua.
– G 30 S/PKI untuk mendirikan negara yang beredio- logi komunis menggantikan ideologi Pancasila.
– Gerakan Aceh Merdeka (GAM) 4 Desember 1976 oleh Hasan Tiro karena ketimpangan ekonomi dan bermuara kepada pemisahan dari NKRI.
Wawasan Kebangsaan

Unsur pokok wawasan kebangsaan itu adalah komitmen yang menjunjung tinggi hak dan kewajiban setiap warga negara, ditetapkan melalui proses politik yang konstitusional dan dilaksanakan dengan konsekuensi hukum yang tinggi. Konsepsi untuk memantapkan wawasan kebangsaan, secara garis besar meliputi tiga dimensi pembinaan, yakni rasa kebangsaan, paham kebangsaan dan semangat kebangsaan.
Rasa kebangsaan merupakan kesadaran bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang tumbuh secara alamiah karena adanya kesamaan budaya, sejarah dan aspirasi perjuangan. Kualitas rasa kebangsaan sangat dipengaruhi oleh faktor internal, seperti mental dan intelektual kebangsaan dan faktor eksternal seperti politik dan budaya.

Mental kebangsaan memuat nilai-nilai manusiawi yaitu peduli terhadap masa depan bangsa dan mencintai generasi penerus bangsa. Setiap anak bangsa harus bertanggungjawab terhadap masa depan bangsanya. Intelektual kebangsaan menghadirkan kreasi untuk memikirkan dan menemukan solusi terbaik bagi permasalahan bangsa untuk mengatasi ketidakpastian dan selalu berpikir jernih serta berfikir pembaharuan yang berorientasi pada nasionalisme.

Rasa kebangsaan sangat erat kaitannya dengan sikap anak bangsa terhadap tanah airnya yang dipandang sebagai tumpah darahnya, sebagai identitas kebangsaannya dan sebagai representasi negara bangsanya. Kesamaan budaya, sejarah dan aspirasi perjuangan seperti disebutkan di atas telah menempatkan bangsa Indonesia secara alami sebagai komunitas budaya, komunitas sejarah dan komunitas aspirasi perjuangan yang sama dan dihayati sebagai suatu kepastian bersama. Pengelolaan nilai-nilai dan ikatan bersama perlu dilakukan secara berkesinambungan agar paham multikultural nationalism tidak tergeser oleh paham multinaturalism yang menjurus ke pemecahbelahan persatuan dan kesatuan Indonesia.

Rasionalisasi rasa kebangsaan akan melahirkan paham kebangsaan, berupa pemikiran-pemikiran rasional tentang hakikat dan cita-cita kehidupan serta perjuangan yang menjadi ciri khas suatu bangsa. Paham kebangsaan yang termanifestasikan dalam Sumpah Pemuda 1928, dipercaya sebagai faktor utama yang mempersatukan perbedaan-perbedaan yang ada, dan kemerdekaan sebagai wujud perkembangan kesadaran bangsa hanya akan dapat dicapai apabila ada persatuan yang kuat.

Selain persatuan, keanekaragaman bangsa Indonesia merupakan substansi utama paham kebangsaan. Persatuan Indonesia tidak menghapus keanekaragaman dan bukan menciptakan keseragaman, melainkan melestarikan dan mengembangkan kebhinekaan. Paham kebangsaan adalah paham yang menentang primordialisme, sentralisme dan ketidakadilan sosial. Hal utama yang secara sungguh-sungguh harus direalisasikan dari paham kebangsaan adalah prinsip penegakan hukum, bahwa semua warga negara sama dihadapan hukum.

Menyatunya rasa kebangsaan dan paham kebangsaan Indonesia akan menumbuhkan semangat kebangsaan, yang merupakan tekad sejati untuk membela dan rela berkorban bagi kepentingan bangsa dan negaranya. Semangat kebangsaan akan mendorong keberhasilan dalam mempersatukan segala macam perbedaan, tetapi menjadi rapuh bila terjadi pergeseran sudut pandang dalam berbagai aspek akibat perkembangan lingkungan strategis sehingga melonggarkan ikatan-ikatan dan nilai-nilai kebersamaan yang sudah dibangun selama ini.

Selain itu, menipisnya semangat kebangsaan dapat pula disebabkan oleh kesalahan pengelolaan negara sehingga mengakibatkan munculnya tuntutan merdeka, timbulnya rasa ketidakadilan, penyelesaian masalah bangsa yang refresif di luar koridor hukum dan kepentingan nasional, ketidakterbukaan dan ketidakjujuran, yang semua itu bermuara kepada tindakan yang menyimpang dari amanat rakyat.
Dewasa ini ikatan-ikatan dan nilai-nilai kebangsaan Indonesia cenderung mengendur, karena demokrasi diartikan sebagai The Right of Self Determination atau bebas menentukan nasib sendiri, sehingga bermuatan perilaku, sikap, idealisme dan kepentingan fragmental di luar koridor kepentingan nasional. Situasi seperti itu menyebabkan munculnya kelompok-kelompok masyarakat yang memanipulasi logika demokrasi demi kepentingannya. Hal ini harus dicermati sekaligus diwaspadai agar tidak semakin meluas seperti yang terjadi di Aceh, Papua, Ambon dan Poso maupun berbagai bentuk pengkhianatan di masa lalu, seperti G 30 S/PKI yang apabila dibiarkan berlarut-larut akan meruntuhkan wawasan kebangsaan kita.

Beberapa contoh lainnya yang secara tidak sadar sering kita ucapkan dalam kehidupan sehari-hari antara lain adalah tentang penyebutan istilah Jawa-Luar Jawa, Indonesia Bagian Timur-Barat, Pribumi dan non-pribumi.

Ini semua merupakan hal-hal yang justru kontra produktif dan dapat memecah belah bangsa serta menghambat pembangunan wawasan kebangsaan Indonesia yang kuat.
Oleh karenanya perlu terus dilakukan upaya-upaya untuk membangun wawasan kebangsaan Indonesia pada diri setiap anak bangsa yang bercirikan :

Pertama, adanya rasa ikatan yang kokoh kuat dalam satu kesatuan dan kebersamaan di antara sesama anggota masyarakat, tanpa membedakan suku, agama, ras maupun golongan.

Kedua, saling membantu antara sesama komponen bangsa demi mencapai tujuan dan cita-cita bersama.

Ketiga, tidak membangun primordialisme dan eksklusifme, karena hanya akan merusak persatuan.

Keempat, membangun kebersamaan dengan semboyan bahwa suka duka anggota masyarakat adalah suka duka seluruh bangsa dan negara.

Kelima, mampu mengembangkan sikap untuk berfikir dan berprilaku positif dimanapun berada, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Keenam, senantiasa berfikir jauh ke depan, membuat gagasan untuk kemajuan bangsa dan negaranya menuju kemandirian dan kesetaraan dengan bangsa-bangsa lain.

Dengan melekatnya keenam ciri itu pada setiap anak bangsa maka perspektif integrasi nasional dapat lahir dan tumbuh menjadikan bangsa dan Negara Kesa-tuan Republik Indonesia yang maju dan kuat, karena :
Pertama, Bangsa yang bersatu atau terintegrasi dapat melaksanakan rencana pembangunannya dengan lancar, memiliki daya tahan dan kemampuan dalam menghadapi setiap bentuk ancaman. Melalui integrasi nasional bangsa Indonesia yang sedang membangun akan mampu menetralisir semua kecenderungan negatif yang timbul sebagai dampak dari proses pembangunan itu sendiri.

Kedua, dengan integritas nasional, dimungkinkan akan dilakukan tindakan penyusunan, pengerahan dan pendayagunaan segala sumber daya secara lebih terarah sesuai dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. Hal ini sangat relevan dengan kondisi geografis, demografis dan sosial budaya kita. Daerah yang penduduknya padat tetapi sumber daya alamnya kurang dan daerah yang kaya sumber daya alam namun penduduknya jarang, kedua jenis daerah ini sama-sama dalam keadaan sejahtera dan rentan terhadap kerawan-an. Melalui integrasi nasional, kita dapat mengelola alokasi sumber daya dan menentukan skala prioritas dengan sebaik-baiknya.

Ketiga, integrasi nasional menjamin keterpaduan dan kesejahteraan, sekaligus menghilangkan kecurigaan satu sama lain, sehingga semua perhatian dapat lebih terkosentrasi kepada upaya pembangunan nasional. Melalui integrasi nasional akan semakin mantap rasa persatuan dan semakin subur iklim saling percaya, sebab kepentingan perorangan atau golongan akan terakomodasi secara proporsional dalam pembangunan keseluruhan bangsa.

Keempat, berkat integrasi nasional, maka perhatian terhadap aspek keamanan masyarakat akan sejalan dengan aspek kesejahteraan, karena kedua hal tersebut bersifat interdependensi dan berkorelasi secara integral. Hal itu merupakan basic need and interest secara kolektif maupun perorangan. Oleh karena itu, adalah keliru bila kita menganggap kesejahteraan bersifat produktif dan keamanan bersifat kontra produktif. Itulah sebabnya dalam pembangunan nasional yang integratif, pendekatan keamanan dan kesejahteraan selalu dilaksanakan secara
simultan, serasi, selaras dan proporsional.

Kelima, dengan integrasi nasional yang kokoh, kita dapat mengendalikan perubahan dan pembaharuan dalam berbagai aspek, tanpa konflik dan guncangan yang berarti.
Tentara Nasional Indonesia

Penyampaian tentang TNI bertujuan agar pemahaman ini dapat menjembatani dan mensinergikan seluruh potensi bangsa untuk mengatasi berbagai persoalan yang sedang dan akan kita hadapi khususnya menyikapi masalah dan tantangan yang ditimbulkan akibat perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi.

Sejarah terbentuknya TNI sebagai wujud dari upaya mempertahankan kemerdekaan. Badan Keamanan Rakyat yang didirikan pada tanggal 22 Agustus 1945 kemudian berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat pada tanggal 5 Oktober 1945 yang setiap tahun diperingati sebagai hari TNI. Selanjutnya berganti menjadi Tentara Keselamatan Rakyat pada tanggal 16 Januari 1946 dan berubah lagi menjadi Tentara Nasional Indonesia sebagai badan perjuangan/kelaskaran tanggal 3 Juni 1947.

Pada tanggal 27 Desember 1949 TNI berubah menjadi Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat dimana pada masa ini banyak terjadi pemberontakan hingga tahun 1950 berubah menjadi Angkatan Perang Republik Indonesia. Sejak tanggal 21 Juni 1962 menjadi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia hingga tanggal 1 April 1999 kembali menjadi TNI hingga sekarang akibat tuntutan reformasi.
Tugas Pokok TNI

Tugas Pokok TNI adalah menegakkan kedaulatan negara dan menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta melindungi segenap bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.
Kemanunggalan TNI-Rakyat

Dari tugas pokok yang telah diuraikan diatas, maka untuk dapat melaksanakan dan berhasil dengan baik perlu mencari metode atau cara yang tepat. Pembinaan Teritorial yang dilakukan oleh TNI (TNI AD) pada hakekatnya merupakan suatu cara/metode agar TNI (TNI AD) berhasil mengajak rakyat Indonesia untuk bersama-sama membangun negara dan mempertahankannya dalam wujud pertahanan semesta.
Pertahanan semesta dengan melibatkan seluruh rakyat dan komponen bangsa hanya bisa terwujud bila TNI dekat dengan rakyat dan berada di hati rakyat. Kemanunggalan TNI-Rakyat merupakan kekuatan yang paling dahsyat untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Hal ini telah dibuktikan bangsa Indonesia dan telah tercatat pada sejarah peran TNI.
Jati Diri TNI

Negara ini merdeka merupakan hasil perjuangan seluruh rakyat Indonesia yang bersama-sama mengangkat senjata melawan kaum penjajah. TNI terbentuk juga dari hasil perjuangan rakyat. Oleh sebab itu jati diri TNI adalah sebagai tentara rakyat, tentara pejuang dan tentara nasional.
Sebagai Tentara Rakyat, maka TNI harus manunggal dengan rakyat, berada di tengah-tengah rakyat dan berjuang untuk rakyat.

Sebagai Tentara Pejuang, TNI AD lebih mengutamakan tugas negara daripada kepentingan yang lain,
walaupun harus mengorbankan jiwa raganya.

Sebagai Tentara Nasional, TNI AD tidak boleh berpihak kepada kelompok tertentu dengan latar belakang Suku, Agama, Ras maupun kepentingan Antar Golongan, TNI AD harus bersikap netral terhadap semua golongan.
Peran TNI

Sesuai dengan Undang-Undang tentang Pertahanan Negara maka peran TNI sebagai alat pertahanan negara yang bersifat semesta yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah dan sumber daya nasional lainnya perlu dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselengga-rakan secara total, terpadu, terarah dan berlanjut untuk mempertahankan kedaulatan negara dan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta menjaga keselamatan segenap bangsa dari ancaman
dan gangguan terhadap bangsa dan negara.
TNI Sebagai Perekat Keberagaman

Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku, berbagai macam agama dari Sabang sampai Merauke. Bangsa ini bukan bangsa rezim, bangsa orde atau bangsa yang hanya satu suku saja.
Kita harus meyakini bahwa Pancasila merupakan wadah pemersatu bangsa Indonesia yang rumusannya telah digali dari leluhur khususnya dari masa kerajaan Majapahit yang terkenal seperti Bhineka Tunggal Ika dan Tanhana Dharma Mangrwa yang bermakna berbeda-beda tetapi satu dan kebenaran yang mendua.

Seharusnya menjadi kesepakatan kita bersama bahwa keberagaman yang dimiliki dalam wadah NKRI harus dijaga dan menjadi kekayaan yang tidak ternilai harganya. Oleh karenanya, TNI akan tetap teguh dengan perannya dalam menjaga keutuhan dan keselamatan NKRI.
TNI Sebagai Pemersatu Bangsa

Segala yang dilakukan TNI AD pada kenyataannya hanya untuk kepentingan bangsa dan negara. Dengan demikian tidak boleh terdengar adanya tentara Aceh, tentara Ambon, tentara Jawa, tentara Islam atau tentara Kristen dan sebagainya. Yang ada ialah Tentara Nasional Indonesia yang terdiri dari suku-suku dari Sabang sampai Merauke dan menganut agama Islam, Kristen, Budha, Hindu dan Kong Hu Chu sebagimana yang ditetapkan oleh negara. Hal tersebut merupakan wujud dari wawasan
kebangsaan yang harus kita pahami bersama.
Hal-hal Yang Sudah dan Sedang Dilakukan

Disamping melaksanakan Reformasi Internal secara konsisten, TNI AD sudah melaksanakan pengembangan kekuatan dengan membentuk 10 Yonif Raider sebagai upaya untuk meningkatkan dan perimbangan daya tempur relatif di dalam rangka menghadapi ancaman dari manapun untuk melakukan perang berlarut. Selanjutnya TNI AD juga melakukan pengadaan alat peralatan militer sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh negara saat ini.

Memantapkan wawasan kebangsaan di kalangan prajurit agar pada saat tugas tidak ada sikap-sikap keberpihakan kepada kelompok-kelompok masyarakat, khususnya dalam penanganan konflik horizontal. Melakukan pembenahan doktrin dan buku-buku petunjuk sejalan dengan tuntutan perkembangan lingkungan strategis yang terus bergerak cepat termasuk dalam
mengantisipasi bahayanya perang modern.

Dalam kurun waktu beberapa tahun kedepan, bangsa Indonesia masih dihadapkan dengan berbagai ancaman yang terjadi di dalam negeri, maka bagi TNI selain kemampuan dasar militer dan memiliki jati diri TNI sebagaimana dibagian awal dikemukakan juga dituntut harus menang dan berhasil dalam menanggulangi ancaman dan gangguan bersama-sama seluruh komponen dan kekuatan bangsa. Hal ini mutlak, karena apabila TNI kalah dan hancur, berarti hancur pulalah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semua yang dilakukan dan yang tidak dilakukan oleh TNI Angkatan Darat hanya dimaksudkan untuk memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara.Sebagai penutup disampaikan harapan-harapan kepada segenap komponen bangsa dalam menghadapi perkem-bangan global yang sedang berlangsung saat ini sebagai berikut :
Pertama, perjuangan bangsa Indonesia merupakan kesinambungan yang utuh, arah dan tujuannya ditentukan oleh bangsa Indonesia sendiri, bukan oleh bangsa lain atau oleh sekelompok masyarakat Indonesia yang tidak konsisten dengan cita-cita kemerdekaan. Marilah kita belajar dari sejarah perjuangan bangsa agar kesadaran dan pemahaman kita terhadap negara kita sendiri semakin mantap, timbul kecintaan yang mendalam dan semangat cinta tanah air yang diperlukan untuk eksistensi NKRI.

Kedua, perlu disadari bahwa berbagai konflik yang terjadi di tanah air tidak terlepas dari intervensi kepentingan asing yang disebut kepentingan yang universal maupun kepentingan fragmental dari anak bangsa sendiri yang sempit, sesaat dan diluar koridor kepentingan nasional. Kita hentikan konflik yang menyengsarakan rakyat, hentikan hujat menghujat yang merusak integrasi bangsa dan berbagai rivalitas yang menjadi penghambat pembangunan masa depan bangsa yang lebih baik.
Ketiga, marilah kita bangun persatuan bangsa yang dilandasi semangat persaudaraan bangsa yang tulus serta dilandasi pula nilai-nilai moral kejuangan untuk mewujudkan kejuangan untuk mewujudkan kekuatan sinergis yang telah terbukti paling dahsyat dan efektif untuk mengatasi berbagai permasalahan bangsa. Khususnya bagi masyarakat mayoritas untuk lebih mengakomodasi kepentingan kelompok minoritas dalam proses sosial, budaya dan politik agar mendorong mereka untuk merasa memiliki negara ini.

Keempat, globalisasi telah mengakibatkan hilangnya batas antar negara, melemahkan kedaulatan dan mengedepannya sistem kapitalisme serta meningkatnya peran konglomerasi. Hal tersebut harus kita sikapi secara bijak dengan menjalin hubungan baik dengan tidak mengorbankan kepentingan nasional serta tidak mematikan nasionalisme kita.

Kelima, wawasan kebangsaan sebagai prasyarat terwujudnya integrasi bangsa dan sinergitas kekuatan perlu ditindaklanjuti dengan upaya nyata agar segera menjadi kenyataan. Hanya dengan bersatunya seluruh komponen bangsa kita akan memiliki daya tangkal dan daya saing yang kuat untuk mewujudkan kesetaraan dengan bangsa-bangsa lain di dunia dan berhasil melanjutkan perjuangan untuk mencapai cita-cita kemerdekaan. Dengan integritas bangsa mari kita lakukan perubahan yang bermanfaat bagi seluruh bangsa Indonesia tanpa menimbulkan konflik.

Keenam, waspadai pihak-pihak tertentu yang selalu berusaha merobohkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, baik itu berasal dari dalam maupun luar negeri. Peristiwa lepasnya Timor Timur sebagai wujud disintegrasi bangsa secara parsial dan berbagai tindakan makar seperti yang pernah dilakukan PKI pada peristiwa Madiun 1948 dan G 30 S PKI 1965 serta pemberontakan DI/TII, PRRI Permesta dan lain-lain tidak boleh terulang lagi dan menjadi tanggung jawab kita semua untuk menjaganya.

Ketujuh, jangan ada diantara warga masyarakat atau individu manapun yang merasa terpinggirkan dalam proses sosial budaya politik dan ekonomi sehingga ingin memisahkan diri dari NKRI. Tetapi, tuntutlah hak tersebut secara baik sebagai warga dari negara ini dan bersama-sama mengembangkan persaudaraan yang bebas dari prasangka-prasangka yang tidak konstruktif.

Kedelapan, kepada saudara-saudara saya yang berasal dari Aceh, Papua, Maluku dan dari daerah lainnya, marilah kita duduk bersama dan berdiskusi untuk memecahkan berbagai persoalan yang kita hadapi bersama sebagai sesama anak bangsa.
* Penulis adalah Kepala Staf TNI AD

 ( dari Majalah Yudhagama Nomor 65 Tahun XXIV Juli 2004 )


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: