Oleh: waspadanusantara | Januari 21, 2008

Kesadaran Pertahanan Nrgara, Apa Tolok Ukurnya ?

Oleh : Letkol Caj G.T. Situmorang *

Dalam sejarah dunia, cerita tentang negara Republik Sosialis Uni Soviet (USSR) dan Republik Rakyat Cina, Vietnam dan Jerman patut menjadi catatan penting. Penting bagi siapa saja yang mencintai negara dan bangsanya. Negara yang disebut pertama, pernah dikenal sebagai salah satu negara super power, sekaligus memiliki hubungan rivalitas dengan negara adidaya lainnya, Amerika Serikat.
Kini, tidak ada lagi pergaulan internasional dengan negara, yang dalam bahasa setempat disebut sebagai Sovetsky Soyuz. Yang tinggal hanya sebuah legenda. Negara yang dijuluki Beruang Merah itu punah, bukan karena serangan musuh dari luar negeri. Tetapi karena perpecahan warga negara!
Ensiklopedi Microsoft Encarta 2006 mencatatnya dengan kalimat: On December 31 all residual functions of the first Communist state ceased: The USSR no longer existed. Ini terjadi pada 1991.Sementara itu, Cina – negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia – sampai kini tetap eksis. Persoalan serius seperti separatisme bukan tak pernah muncul. Tetapi, negeri Tirai Bambu itu tetap berdiri tegak dengan kebijakan Satu Cina-nya.Kita tidak sedang membicarakan politik internasional. Bentangan situasi itu penting untuk mengulas situasi bangsa kita saat ini, khususnya berkaitan dengan ketahanan nasional. Dalam sisi lain, ketahanan nasional berkaitan erat dengan pertahanan negara kita.
Tahun-tahun belakangan, Indonesia menghadapi masa-masa sulit yang berkaitan langsung dengan kedaulatan dan keutuhan wilayah. Timor Timur, Sipadan-Ligitan, Blok Ambalat, Aceh, Papua dan Maluku adalah masalah yang sangat pelik.Kita berharap, peristiwa yang menyesakkan berhenti hanya pada kasus Timor Timur dan Sipadan-Ligitan. Untuk itu perlu ada peringatan dini yang harus disikapi secara tepat pada setiap gejala rongrongan kedaulatan dan disintegrasi.
Dalam kesehatan medis, hasil pengukuran termometer dan tensimeter, sangat dibutuhkan untuk diagnosa dan tindakan lanjutan.Bagaimana dengan kesadaran pertahanan negara kita, apakah ada alat ukurnya? Akan lebih baik jika ini diikuti dengan pertanyaan, apakah kita (telah) menggunakan alat ukur itu?
Menjawab pertanyaan ini, penting bagi kita untuk memperhatikan substansi pasal-pasal pada Undang-Undang Nomor 3/2002 tentang Pertahanan Negara.Dari undang-undang tersebut, diketahui negara kita memiliki potensi yang sangat besar dalam penyelenggaraan pertahanan. Ada komponen utama, komponen cadangan dan komponen pendukung. Tersedia pula sumber daya nasional, sumber daya alam, sumber daya buatan, berikut sarana dan prasarana yang sudah ditentukan.
Satu di antara kekuatan tersebut ialah potensi warga negara yang jumlahnya lebih dari 230 juta jiwa. Indonesia menempati urutan keempat terbesar di dunia setelah Cina, India dan Amerika Serikat. Kita tahu, di dunia ini, tidak banyak negara yang memiliki populasi ratusan juta.Negeri di garis khatulistiwa seluas 1.904.443 km persegi ini didukung dengan flora, fauna dan pertambangan yang kaya raya.
Dengan kondisi yang demikian, faktanya saat ini kita masih menghadapi ancaman separatisme.Sejenak kita mengingat sejarah bangsa kita. Dalam proses yang panjang, ratusan suku bangsa dengan bermacam-macam latar belakang meninggalkan cara pandang kedaerahannya. Dari penderitaan akibat penjajahan berabad-abad, timbul persatuan dan tekad dalam satu perjuangan untuk menjadi satu bangsa, Indonesia.
Bangsa yang besar memang mengandung kekuatan yang besar. Vietnam yang dahulu kita kenal sebagai dua negara – Vietnam Utara dan Vietnam Selatan – sejak 1976 melakukan reunifikasi. Mereka menjadi satu negara, pasca perang saudara yang berlarut-larut.Jerman Barat dan Jerman Timur, juga jadi contoh yang baik. Lama berada dalam rivalitas ekonomi, politik dan perang dingin, pada 3 Oktober 1990 terciptalah sejarah. Jerman Timur dan Jerman Barat memutuskan menjadi satu negara, yaitu Republik Federal Jerman.
Kembali ke negara kita. Ironis! Ketika negara-negara tadi menikmati indahnya persatuan, beberapa kelompok dari saudara-saudara kita justru melakukan pemberontakan untuk memisahkan diri dari Indonesia.Gerakan separatisme itu tidak hanya menggunakan cara-cara politik. Cara-cara kekerasan bersenjata hingga menimbulkan korban jiwa juga menjadi modusnya. Sentimen kesukuan atau etnis, kedaerahan, ketidakpuasan dan hak asasi manusia, acap kali ditonjolkan ke permukaan.
Di Papua, ide dan aksi separatisme, seyogianya segera kita sikapi dengan baik dan tuntas. Beberapa aksi penyerangan bersenjata berikut ini tidak dapat dikatakan tidak berdampak bagi kedaulatan bangsa. Sebut saja di kawasan P.T. Freeport Indonesia di mile 62-63 (Agustus 2002), gudang senjata Kodim 1702/Jayawijaya (April 2003), pos TNI di Distrik Wembi Kabupaten Keerom (April 2006). Dari sisi politik, beberapa kali dilakukan pengibaran bendera bintang kejora, tuntutan “pelurusan” sejarah hingga penarikan pasukan TNI dari Papua.
Seperti demam, tidak baik jika suhu tinggi dibiarkan berlama-lama. Kita perlu dan menggunakan alat pengukur gejala yang tampak di permukaan, sebelum segala sesuatunya terlambat.Kita bersyukur, pada tahun belakangan ini, terdapat kondisi yang baik. Semakin banyak saja saudara-saudara kita kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Mereka berbalik meninggalkan hutan dan menyatakan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.
November 2004, tercatat 21 saudara kita dari hutan wilayah Sarmi, menyatakan setia kepada NKRI, melalui aparat Kodam XVII/Trikora. Dari wilayah yang sama, pada tahun ini, 198 orang dari wilayah yang sama, juga ”turun gunung”.Mereka menyatakan kesetiaan kepada Merah Putih dalam suatu upacara yang dipimpin Bupati Sarmi, Drs. Eduard Fonataba, MM. Menandai kesetiaan itu, mereka menyerahkan senjata dari jenis ankle loop dan double loop.
Pertengahan Juli lalu, seorang saudara kita dari lembaga masyarakat adat Urunum Guay, menyerahkan bintang kejora kepada Dandim 1701/Jayapura, Letkol Chb Victor Tobing. Selain itu, ia juga menyerahkan kartu tanda anggota OPM miliknya.Seperti diberitakan sebelumnya, kembalinya saudara kita itu berawal dari pendekatan teritorial. Para prajurit Kodam XVII/Trikora melaksanakan pendekatan teritorial itu dengan komunikasi cinta kasih. Bukan dengan kontak senjata.
Di sini terlihat berfungsinya instrumen pertahanan Negara. Aparat TNI, rakyat dan Pemerintah Daerah menunjukkan peran yang signifikan.Jika dari unsur manusia telah terlihat, bagaimana dengan unsur lain? Kita menghendaki, ke depan ada eksploitasi sumber daya alam yang lebih besar untuk pertahanan Negara.Pada bab Ketentuan Umum undang-undang nomor 3/2002, disebutkan peran hasil budi daya manusia yang dapat digunakan sebagai alat penunjang pertahanan Negara.Hasil budi daya manusia di sini adalah pengertian dari sarana dan prasarana nasional. Sampai sekarang, kita mendengar alat utama sistem kesenjataan kita belum mencukupi, bahkan untuk kebutuhan minimal sekalipun.
Seraya menantikan kemampuan Negara untuk mencukupinya, setidak-tidaknya kita sudah harus membangun kepekaan indrawi. Kepekaan indrawi dalam pertahanan Negara bukanlah hal yang kecil. Kepekaan terhadap hal-hal yang ganjil akan memberikan daya tangkal, jika dilanjutkan dengan komunikasi kepada aparat yang berwenang.Hari ini, Kodam XVII/Trikora merayakan ulang tahun yang ke-54. Ada-tidaknya peran kita dalam mempertahankan NKRI, akan menunjukkan ada-tidaknya alat ukur itu. Kiranya pertahanan Negara di Papua semakin meningkat, seiring meningkatnya cinta kita semua kepada NKRI.
Penulis adalah Kepala Penerangan Kodam XVII/Trikora

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: